Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus, Semburkan Lava Air MancurIlustrasi Gunung Anak Krakatau ketika erupsi. (flydime / Wikimedia Commons, CC BY 2.0)

Pentamedianetwork.com – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat signifikan. Gunung api tersebut mengalami erupsi menerus sejak Jumat malam (4/9/2026) hingga Sabtu dini hari (5/9/2026), disertai fenomena lava fountain atau semburan lava seperti air mancur, dentuman, dan gemuruh. Status gunung tetap berada pada Level III (Siaga).

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM yang diunggah di situs MAGMA Indonesia, erupsi menerus dimulai sejak pukul 23.07 WIB Jumat malam dan masih berlangsung hingga laporan periode 00.00–06.00 WIB Sabtu.

“Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau erupsi menerus, berlangsung sejak tanggal 04 September 2026 pukul 23:07 WIB hingga saat laporan ini dibuat,” tulis pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporan resminya.

Fenomena tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain. “Kondisi erupsi seperti ini diinterpretasikan sebagai ‘lava fountain’ atau lava air mancur. Terdengar dentuman dan gemuruh dari Pos PGA Pasauran. CCTV pengamatan di lapangan off terkena lontaran,” jelas Situmorang.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menegaskan, meskipun tinggi kolom abu tidak teramati, warna merah menyala dari semburan erupsi terlihat jelas secara terus-menerus. “Fenomena erupsi ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava,” katanya.

Baca juga:

Cegah Blackout, Profesor ITS Kembangkan Stabilitas Sistem listrik

Sebelumnya, pada Jumat pagi, gunung yang sama sudah mencatat empat kali erupsi beruntun. Tiga erupsi pertama (pukul 04.11, 04.19, dan 04.28 WIB) hanya terekam seismograf, sementara erupsi pukul 05.46 WIB menghasilkan kolom abu hitam setinggi sekitar 300 meter di atas puncak (sekitar 457 meter di atas permukaan laut) yang bergerak ke arah barat dan barat laut.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berlangsung.

“Erupsi tidak selalu terlihat secara visual. Ada yang hanya terekam di seismograf sehingga pemantauan kegempaan tetap penting,” ujarnya.

Status Level III (Siaga) telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 setelah aktivitas meningkat, termasuk erupsi dan peningkatan gempa vulkanik. Rekomendasi resmi tetap sama: masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Badan Geologi menilai potensi ancaman utama saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Sementara itu, terkait kekhawatiran tsunami, pihaknya menyatakan tubuh gunung yang terbentuk kembali pascaerupsi dan longsor besar 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan hanya merujuk informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG atau MAGMA Indonesia.

Author